Serang — Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Pengayaan Berbasis Teks yang diadakan oleh Kantor Bahasa Banten bertujuan untuk menciptakan bahan-bahan literasi yang bermutu dan sesuai dengan kriteria bahan bacaan yang baik bagi pembaca di jenjang sekolah menegah pertama (usia 12 s.d.15 tahun). Kegiatan tersebut dilaksanakan selama 2 bulan, diawali dengan pengumpulan hasil karya peserta pada  Bulan Mei dan diakhiri dengan penjurian yang dilaksanakan pada Bulan Juli.

Tema tulisan yang berlatarbelakang Banten menjadi persyaratan khusus pada sayembara ini. Peserta diminta untuk menulis cerita dengan berbagai jenis teks dan bertemakan kehidupan sosial masyarakat pedesaan dan perkotaan di Banten, lanskap Banten, kekayaan bahasa daerah, pelajaran penting dari tokoh-tokoh Banten,kuliner Banten, dan arsiktektur tradisional Banten.

Tiga dari delapan naskah dalam sayembara ini akhirnya mendapatkan predikat Terbaik dalam penjurian yang dilaksanakan di Kantor Bahasa Banten pada tanggal 27 Juli 2017 . Lima orang Juri yang hadir pada acara tersebut, yaitu Yanti Riswara, Firman Venayaksa, Dase Edwin Juansah, Emmy Soekresno, dan Wuri Dian Trisnasari sepakat memutuskan bahwa naskah dengan judul  Ziarah ke Tanah Jawara, Celah-celah Mimpi, dan Buku Pengayaan Bahasa Indonesia sebagai pemenang.

Juri keempat,Emmy Soekresno dari Kelompok Pemerhati Anak, memberikan penilaian lebih pada gaya penulisan Peti Priani Dewi dalam Ziarah ke Tanah Jawara yang sangat mendalami psikologis anak-anak usia jenjang menengah. Sementara ketua tim juri, Yanti Riswara, berpendapat bahwa cerita naskah cerita Celah-celah Mimpi yang ditulis oleh Heri Santoso memiliki nilai pesan yang kuat. “Nilai moral dan pesan-pesan lain yang terkandung dalam cerita sangat sesuai dengan kondisi nyata sekarang ini,”ujar Yanti.

Sementara itu, dua juri yang lain yaitu Firman Venayaksa dan Dase Edwin Juansah sangat tertarik dengan tema kuliner khas Banten yang dihadirkan oleh Rahmat Heldy dalam karyanya, Buku Pengayaan Bahasa Indonesia. Firman menuturkan, “Berbagai jenis kuliner khas Banten dijadikan sebagai ide pokok dalam tulisan dan dikemas dalam tiga jenis teks, yaitu prosedural, narasi, dan deskripsi.”

“Semua naskah yang masuk melibatkan nilai-nilai Kebantenan dalam isinya. Hanya saja masih ada beberapa kelemahan yang muncul, seperti pemilihan ilustrasi yang kurang tepat dengan tema, dan penggunaan bahasa yang kurang tepat untuk pembaca sasaran,”tambah Wuri Dian. Secara umum, dewan juri menilai rata-rata naskah yang masuk menawarkan pilihan ide pokok yang menarik, tetapi disampaikan dengan pemilihan jenis teks dan diksi yang tidak sesuai. (Wuri)