Warning: Undefined array key 1 in /home/eafloqav/public_html/wp-content/plugins/visitors-online/visitors-online.php on line 505

Warning: Undefined array key 2 in /home/eafloqav/public_html/wp-content/plugins/visitors-online/visitors-online.php on line 505
ISU LITERASI TERKINI DI TELEWICARA LITERASI KANTOR BAHASA PROVINSI BANTEN

Sebagai bagian dari peringatan bulan bahasa tahun 2023, Kantor Bahasa Provinsi Banten menyelenggarakan Telewicara Literasi pada tanggal 7 November 2023. Dengan mengusung format digital, telewicara ini mendatangkan empat narasumber: Asep Juanda (Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten), Edi Wiyono (Kepala Perpusnas Press), Kuat Prihatin (Ketua Subkomisi Penelitian dan Pengkajian Lembaga Sensor Film), serta Nero Topik Abdillah (Ketua FTBM Pusat). Dimoderatori oleh Widyabasa Ahli Muda Kantor Bahasa Provinsi Banten, Wuri Dian Trisnasari, telewicara ini mengangkat isu-isu yang berkenaan dengan literasi. Telewicara ini diikuti oleh seratus peserta dari berbagai lapisan masyarakat di Provinsi Banten.

Sebagai pembuka, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten, Asep Juanda menyampaikan program prioritas dan kebijakan Badan Bahasa di bidang literasi. Disebutkan oleh Asep bahwa literasi merupakan salah satu program prioritas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang dilaksanakan oleh seluruh balai dan kantor bahasa di seluruh Indonesia, termasuk di Banten. Selanjutnya, Asep menambahkan bahwa Kantor Bahasa Provinsi Banten konsisten melaksanakan kegiatan-kegiatan yang mendukung literasi, di antaranya bengkel literasi bagi generasi muda, bengkel pelatihan bagi pegiat literasi, serta pemutakhiran data komunitas penggerak literasi. “Kegiatan-kegiatan literasi Kantor Bahasa sifatnya berkesinambungan, misalnya setelah komunitas literasi terdata, kita lakukan pelatihan berdasarkan kebutuhan mereka,” ujarnya.

Literasi digital juga menjadi topik pembicaraan. Kuat Prihatin dari LSF menitikberatkan pembicaraan pada sensor mandiri di lingkungan keluarga. Kuat menyebut bahwa kemajuan teknologi membuat generasi muda lebih leluasa dalam mengakses konten yang mereka inginkan. Ditambahkan oleh Kuat bahwa pada survei yang dilakukan oleh LSF, mayoritas responden generasi muda mengakses gawai mereka dari ruang pribadi seperti kamar. Bahkan, mayoritas responden pernah mengakses konten media yang tidak sesuai usia. Oleh karenanya, LSF pun meluncurkan Gerakan Sensor Mandiri yang bertujuan untuk memilah dan memilih tontonan sesuai dengan kategori usia serta memberikan pendampingan dan pemahaman atas tontonan yang dipilih. Sensor Mandiri sudah gencar disosialisasikan oleh LSF pada kalangan generasi muda. Meski begitu, Kuat mengakui bahwa gerakan ini masih belum maksimal terutama saat berhadapan dengan sensor terhadap konten media yang perizinannya berada di bawah Kementerian Komunikasi dan Informasi.

Kepala Perpusnas Press, Edi Wiyono pun memberikan banyak informasi mengenai kegiatan yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional. Edi memaparkan bahwa salah satu hambatan pembudayaan membaca adalah mengenai akses yang terbatas. Untuk mengurangi hambatan tersebut, Perpusnas telah menyebar mobil keliling, motor keliling, pojok baca digital, serta membuat titik baca di 20 lokus. Edi juga menyatakan bahwa perpustakaan daerah pun kini didorong untuk mengubah paradigma dari tempat yang eksklusif menjadi ruang terbuka untuk keluarga. Program Inkubator Literasi Pustaka Nasional juga menjadi salah satu program unggulan Perpusnas. Disebutkan oleh Edi bahwa inkubator literasi didesain untuk mendorong, membina dan, mempercepat kemampuan dan keberhasilan masyarakat untuk menghasilkan karya dalam bidang penulisan, terutama dengan tematik kearifan lokal. Karya tersebut kemudian dibukukan, diterbitkan dan didiseminasikan ke tengah-tengah masyarakat sebagai bagian dari khazanah ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, Perpusnas menerima kiriman naskah dari masyarakat untuk kemudian diterbitkan oleh Perpusnas. Tentu saja ada proses kuratorial yang dilakukan oleh Perpusnas pada program ini.

Narasumber terakhir adalah Nero Topik Abdillah yang juga Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Pusat. Opik, sapaan akrabnya, memaparkan kiprah para pegiat literasi di tengah masyarakat. Opik pun menyatakan bahwa kiprah TBM tidak hanya terbatas pada layanan membaca dan peminjaman buku. Disebutkan oleh pengelola Komunitas Ngejah ini, TBM sudah menghasilkan karya tulis, karya digital, serta produk ekonomi yang memiliki nilai jual. Selain itu, Opik menambahkan bahwa banyak TBM yang fokus pada beberapa isu yang terjadi di tengah masyarakat seperti isu lingkungan, revitalisasi bahasa daerah, ekonomi masyarakat, hingga disabilitas. Pada akhirnya, Opik menyatakan bahwa TBM siap membuka diri pada kolaborasi dengan banyak pihak dalam rangka penguatan kapasitas TBM.